Pesatnya perubahan perilaku konsumen di tahun 2020 mendorong perubahan tren digital, kesehatan, dan keberlanjutan, menurut PwC global

  • 69% konsumen global lebih fokus pada kesehatan dan kesejahteraan mental
  • 45% konsumen global mengatakan bahwa perawatan kesehatan adalah salah satu dari tiga alasan utama untuk tinggal di kota
  • Lebih dari 50% konsumen Indonesia mengatakan pekerjaan dan keterjangkauan biaya hidup adalah fitur terpenting bagi masyarakat perkotaan
  • Setelah wabah COVID-19, lima besar peningkatan belanja konsumen Indonesia adalah produk kesehatan (77%), bahan makanan (67%), hiburan & media (54%), pengambilan / pengiriman makanan (47%), dan kegiatan ketrampilan mandiri (DIY)/perbaikan rumah/berkebun (32%)
  • 68% konsumen Indonesia terbuka untuk membagikan data konsumen pribadi mereka jika dapat membantu meningkatkan kota mereka, jauh lebih besar dibandingkan secara global (49%)

JAKARTA, 13 Agustus 2020 – Percepatan tren dan perilaku konsumen yang sudah berlangsung sebelum wabah COVID-19 kembali melonjak dan berpotensi mendorong perusahaan dan peritel yang berhadapan langsung dengan konsumen untuk melakukan inovasi dalam cara mereka menjalankan usaha, menurut laporan PwC global yang baru. Temuan dari dua survei yang dilakukan sebelum dan sesudah pandemi COVID-19 dan diterbitkan dalam survei ke-11 Global Consumer Insights yang telah dilakukan secara berturut-turut oleh PwC berfokus pada kebiasaan dan perilaku pembelian konsumen perkotaan, dan bagaimana disrupsi global telah mendorong percepatan menuju cara hidup yang lebih digital. Miliaran orang di seluruh dunia tinggal di kawasan perkotaan, dan konsentrasi ini telah menciptakan era baru bagi konsumsi global; kota adalah pusat dimana kegiatan ekonomi dilakukan. Hasil survei mengungkap bahwa pandemi dan aturan pembatasan jarak sosial yang selanjutnya diterapkan telah menyebabkan perubahan mendasar dalam cara konsumen bekerja, makan, berkomunikasi, dan menjaga kesehatan mereka.

Konsumen telah beradaptasi dalam cara berbelanja 

Aturan pembatasan jarak sosial yang diberlakukan akibat virus korona telah mempengaruhi konsumen dalam semua aspek kehidupan, termasuk dalam membeli kebutuhan sehari-hari. Meskipun toko fisik masih menjadi pilihan utama dalam berbelanja kebutuhan harian, lebih dari sepertiga konsumen (35%) sekarang membeli makanan secara online, di mana 86% dari konsumen yang berbelanja online berencana untuk terus melakukannya bahkan setelah aturan pembatasan jarak sosial dihapuskan. Untuk barang-barang selain makanan, sebelum pandemi terjadi, berbelanja di toko fisik lebih dominan daripada berbelanja secara online, di mana 47% konsumen mengatakan bahwa mereka berbelanja di toko fisik setiap hari atau setiap minggu, dibandingkan dengan yang berbelanja melalui ponsel (30%), komputer (28%) dan smart voice assistants (15%).

Sejak saat itu, belanja online untuk barang-barang selain makanan mengalami peningkatan yang substansial (ponsel 45%; komputer 41%; perangkat tablet 33%), tren ini sangat menonjol di Tiongkok dan Timur Tengah, di mana 60% dan 58% dari responden masing-masing mengatakan bahwa mereka sudah mulai lebih sering berbelanja melalui ponsel mereka.

Pentingnya hubungan, komunitas, perawatan diri yang menjadi jelas 

59% dari konsumen milenial dan 57% dari konsumen yang mempunyai anak, menempatkan fokus yang lebih besar pada kesejahteraan mereka dibandingkan kelompok lain. Fokus pada perawatan diri telah meningkat, di mana 51% konsumen perkotaan setuju atau sangat setuju bahwa mereka lebih fokus menjaga kesehatan kesejahteraan dan mental mereka, serta kesehatan fisik dan pola makan sebagai akibat dari pandemi COVID-19.

Penduduk kota yang disurvei setelah wabah berpandangan bahwa keselamatan dan keamanan serta perawatan kesehatan sama pentingnya bagi kualitas hidup mereka seperti prospek pekerjaan, dimana 49% dan 45% responden masing-masing mengatakan demikian, dibandingkan dengan 45% yang menjawab bahwa pekerjaan lebih penting.

Konsumen dan keberlanjutan 

Penelitian kami menunjukkan penerimaan yang nyata pada keberlanjutan dan rasa kewajiban sebagai warga negara. Sebagai contoh, dalam hasil survei yang diambil sebelum pandemi, 45% responden global kami mengatakan bahwa mereka menghindari penggunaan plastik jika memungkinkan, 43% mengharapkan agar pelaku bisnis bertanggung jawab atas dampak bisnis mereka terhadap lingkungan, dan 41% mengharapkan agar peritel meniadakan kantong dan kemasan plastik untuk produk-produk konsumsi yang cepat rusak (perishable items). Menariknya, ketika konsumen disurvei tentang siapa yang paling bertanggung jawab untuk mendorong perilaku berkelanjutan di kota mereka, 20% memilih “saya, konsumen,” sementara 15% memilih “produsen atau pabrikan.” Ketika konsumen disurvei tentang kesediaan mereka untuk berbagi data, 49% menyatakan kesediaannya untuk memberikan data mereka jika memang dapat membantu meningkatkan kualitas kota mereka.

Hasil dari survei Indonesia

Hasil dari responden Indonesia menunjukkan bahwa setelah wabah COVID-19, lebih dari 50% konsumen Indonesia mengatakan bahwa pekerjaan dan keterjangkauan biaya hidup adalah fitur terpenting bagi masyarakat perkotaan, sedangkan responden global memilih keselamatan dan kesehatan. Selain itu, 68% konsumen Indonesia terbuka untuk membagikan data konsumen pribadi mereka jika hal itu membantu meningkatkan kota mereka yang jauh lebih besar dibandingkan dengan 49% responden secara global. Peter Hohtoulas, Retail and Consumer Advisor di PwC Indonesia menyatakan, “Dalam hal pengeluaran, lima besar peningkatan belanja konsumen Indonesia adalah produk kesehatan (77%), bahan makanan (67%), hiburan & media (54%), pengambilan/pengiriman makanan (47%), dan DIY/perbaikan rumah/berkebun (32%). Menariknya, meskipun 65% konsumen Indonesia mengalami penurunan pendapatan rumah tangga, kami menemukan bahwa 64% konsumen Indonesia optimis tentang masa depan dan akan menghabiskan lebih banyak pendapatan rumah tangga mereka.”

Catatan :

Global Consumer Insights Survey adalah survei konsumen global ke-11 yang telah dilakukan secara berturut-turut oleh PwC. PwC melakukan dua survei online secara terpisah. Survei pertama mengumpulkan jawaban dari 19.098 konsumen dari 27 negara atau wilayah dan 74 kota antara bulan Agustus dan September 2019. Survei kedua mengumpulkan jawaban dari 4.447 konsumen dari 9 negara atau wilayah dan 35 kota antara bulan April dan Mei 2020. 

Untuk mengunduh laporan lengkapnya, kunjungi pwc.com/id/gcis-2020

 

Tentang PwC Indonesia

PwC Indonesia terdiri dari KAP Tanudiredja, Wibisana, Rintis & Rekan, PT PricewaterhouseCoopers Indonesia Advisory, PT Prima Wahana Caraka,

PT PricewaterhouseCoopers Consulting Indonesia, dan Melli Darsa & Co., Advocates & Legal Consultants, masing-masing sebagai entitas hukum dan firma anggota yang terpisah dari jaringan global PwC.

 

Tentang PwC

Di PwC, kami bertujuan membangun kepercayaan dalam masyarakat dan memecahkan masalah-masalah penting. Kami adalah jaringan firma yang terdapat di 157 negara dengan lebih dari 276.000 orang yang berkomitmen untuk memberikan jasa assurance, advisory dan pajak yang

berkualitas.

Temukan lebih banyak informasi dan sampaikan hal-hal yang berarti bagi Anda dengan mengunjungi situs kami di www.pwc.com.

PwC merujuk pada jaringan PwC dan/atau satu atau lebih firma anggotanya, masing-masing sebagai entitas hukum yang terpisah. Kunjungi www.pwc.com/structure untuk informasi lebih lanjut.

 

© PwC 2020. Hak cipta dilindungi undang-undang.

Contact us

Cika Andy

External Communications, PwC Indonesia

Tel: +62 21 509 92901

Follow PwC Indonesia